Tidur Ngorok Bukan Hanya Bikin Berisik, tapi….

Banyak orang mengeluh mengalami gangguan tidur. Kondisi ini tentu saja dapat menyebabkan penurunkan kualitas tidur seseorang. Salah satu indikator adanya gangguan tidur adalah mendengkuratau ngorok, yang ternyata hal itu bisa jadi tanda bahaya kesehatan.

Namun, gangguan ini sering diabaikan banyak orang karena hanya terjadi ketika seseorang sedang tertidur saja, tidak saat sedang terjaga atau dalam keadaan sadar.

Menurut Dr. dr. Fauziah Fardizza, Sp.THT-KL(K) Staff Departemen divisi THT Laring Faring RSCM, mendengkur bukan berarti seseorang sedang tidur lelap, diam ditengah mendengkur merupakan indikator behenti napas, dan anak yang tidur dengan keadaan menganga bukan berarti tidurnya sangat nyenyak.

Saat mendengkur, kata dokter Fauziah, proses pernapasan seseorang sedang mengalami gangguan di jalan napas atas ketika terlelap.

“Ketika udara masuk dari hidung menuju nasofaring (tenggorokan bagian atas, terletak di belakang hidung, di balik langit-langit rongga mulut), udara akan menggetarkan langit-langit lunak melalui celah sempit,” ujar dokter Fauziah, di acara Webinar Awam: World Sleep Day – Edukasi Tidur, beberapa waktu lalu.

Penyempitan,

Dijelaskannya, saluran pernapasan yang mengalami penyempitan ini akan mengeluarkan suara mendengkur. Jika seseorang mendengkur dengan teratur dan memiliki ritme yang jelas, artinya tidak ada masalah napas yang terjadi akibat celah sempit. Perbedaan lokasi penyempitan juga menyebabkan bunyi mendengkur berbeda-beda.

“Lokasi penyempitan yang berbeda menyebabkan bunyi mendengkur juga berbeda-beda, misal sempitnya di langit-langit, atau di hidung maka bunyinya akan berbeda,” lanjut dokter Fauziah.

Berhenti Napas,

Namun, jika tiba-tiba suara mendengkur hilang dan berhenti itu merupakan tanda dari berhenti napas. Orang yang mengalami henti napas, mengalami kondisi yang sama dengan mendengkur, yakni adanya penyempitan jalur pernapasan. Penyempitan ini berakhir pada tertutupnya jalur napas yang mengakibatkan napas akan berhenti.

Menurut dokter Fauziah, jalur pernapasan yang tertutup, membuat otak memberikan sinyal bahwa tubuh mengalami kekurangan oksigen. Sehingga, orang yang mengalami henti napas akan terbangun dari tidurnya. Terbangun ditengah tidur ini terjadi berulang-ulang sepanjang malam. Kondisi demikian, dapat mengganggu kegiatan seseorang di siang hari hingga menurunkan kualitas hidup seseorang.

“Hal ini berkaitan dengan penurunan kadar oksigen, penderitanya akan terbangun ketika tidur berulang-kali dalam satu malam. Sehingga, tidurnya akan terputus-putus. Ini akan mengganggu sistem tubuh dan membuat kantuk berlebihan disiang hari. Kantuk berlebihan akan membuat kualitas hidup yang buruk bagi penderitanya, mengganggu konsentrasi, cepat lupa, juga meningkatkan angka kecelakan apabila mengantuk ketika sedang menyetir,” pungkas dokter Fauziah.

Leave a comment